Program Acara (14 Aug 2007) :: Press Release (21 Juli 2007) :: Sponsor :: blog
![]()
![]() |
|
|
Pahlawan Seni |
Press Release [21.Juli 2007-Peliatan] |
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas rahmatnya kami para murid dari Maestro Tari dan Tabuh Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog dapat berkumpul dengan maksud mengadakan serangkaian acara sebagai penghormatan, kasih sayang, dan rasa terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman yang telah kami dapatkan dari kedua tokoh ini melalui proses pembelajaran dan pertunjukan pada masa lalu, dengan acara yang bertajuk “MENGENANG SANG GURU - A Tribute to Anak Agung Gde Mandera and Gusti Made Sengog”. Selain bertujuan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya, juga mengembalikan kenangan kepada masyarakat, disertai harapan agar “gaya Peliatan” yang diajarkan Biang Sengog dan Gungkak Mandera tidak dilupakan, tetap dicintai dan dipelihara sebagai salah satu bentuk dalam khasanah seni pertunjukan Bali.
Sesuai dengan judul diatas, acara ini adalah untuk mengenang dua guru besar tari Legong dari Peliatan yaitu Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog
Para murid almarhum Niang Sengog dan almarhum Gungkak Mandera bermaksud mengadakan serangkaian acara yang ditujukan sebagai ungkapan rasa penghormatan, rasa kasih sayang, dan rasa terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman yang telah mereka dapatkan dari kedua tokoh ini melalui proses pembelajaran dan pertunjukan pada masa lalu.
Gusti Made Sengog, yang kemudian lebih dikenal sebagai Niang Sengog, adalah seorang wanita penguruk (guru) Legong yang berasal dari Peliatan. Dalam buku “Dancing Out of Bali” karangan John Coast nama beliau tercantum sebagai pengajar tiga penari cilik di Peliatan yang kemudian mementaskan Legong Keraton di Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam sejarah dan meraih sukses yang gemilang pada tahun 1952.
Niang Sengog telah mengajarkan secara langsung lima generasi Legong Keraton untuk Sekeha Gong Gunung Sari dalam kurun waktu tahun 50-an sampai awal 70-an. Niang Sengog dikenal sebagai wanita tua yang sederhana, pendiam dan cenderung, galak. Ia selalu datang dengan sok (keranjang) berisikan beberapa alat keperluannya dan alat untuk mengunyah sirih. Saat mengajar, Niang Sengog tak segan memeluk, memegang dan membentuk penari dengan kedua lengan dan seluruh tubuhnya sendiri, sampai ia merasakan penari telah sempurna.
Beliau selalu didampingi oleh Anak Agung Gde Mandera yang mengiringi dengan memukul kendang sambil bergumam. Secara tak langsung, tanpa banyak berbicara, Niang Sengog telah berjasa memperkaya khasanah pelegongan di Bali. Ia telah ikut memberi andil menyukseskan kebudayaan dan pariwisata di Bali dan Indonesia. Beliau telah pergi mendahului kita pada tahun 1972. Walaupun pada akhir hayatnya masih sempat diminta mengajar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), nama beliau tidak diabadikan dalam berbagai terbitan mengenai Legong, sebagai salah seorang empu tari yang sangat menonjol diantara sederetan guru Legong lainnya. Walaupun demikian, bagi para muridnya, beliau Sang Guru yang abadi dengan ajaran-ajarannya.
Setelah beliau tiada, Gungkak Mandera-lah yang mengajarkan beberapa generasi Legong gaya Peliatan sampai diakhir hayatnya. Beliau lahir tanggal 5 Maret 1905 dan sejak tahun 1928 mulai memimpin Sekeha Gong Gunung Sari. Beliau adalah seorang yang kharismatik dan selalu ramah dan penuh dengan segudang ide kreatif. Beliau adalah salah satu bagian dalam rombongan kesenian World Expo di Paris, memimpin rombongan ke USA pada tahun 1952 yang diprakarsai oleh John Coast. Bahkan beliau mempersunting dua penari Janger yang ikut rombongan tersebut, sehingga banyak dari putra putri beliau yang menjadi penari yang berbakat yang meneruskan kiprah di bidang seni pertunjukan di Peliatan sampai saat ini.
Gaya tarian yang diajarkan Niang Sengog dan Gungkak Mandera ini agak berbeda dengan guru yang lainnya: cenderung sangat dinamis penuh getaran dengan lengkungan badan condong kedepan serta dagu diangkat. Gaya ini kemudian menjadi kekhasan sekeha gong Gunung Sari di Peliatan dan dikenal dengan sebutan “Gaya Peliatan“.
Walau sekeha gong telah mengalami perubahan menjadi beberapa sekeha, sejumlah murid Niang Sengog dan Gungkak Mandera hingga kini tetap berkiprah dalam seni pertunjukan. Mereka aktif dalam pelatihan generasi berikutnya, berkreasi, mengadakan pertunjukan di Bali ataupun diluar Bali dan mancanegara. Antara lain, dari generasi pertama, Gusti Ayu Raka masih aktif mengajar tari anak-anak di lingkungan Museum ARMA di Ubud. Ibu AA Arimas dan almarhum Ibu AA Oka Salim almarhum beberapa waktu yang lalu pernah menampilkan gaya Peliatan yang khas pada acara pementasan seniman tua. Dari generasi ketiga, Bulantrisna mendirikan Bengkel Tari di Bandung dan Jakarta serta mengajarkan tari Legong dengan Gaya Peliatan, dengan pementasan terakhir Bedoyo Legong Calonarang di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta tahun 2006. Guruh Soekarno Putra mendirikan Swara Mahardika dan GSP (Gencar Semarak Perkasa) di Jakarta, membuat garapan tari Legong Untung Surapati dengan gaya Peliatan dan pengembangannya. Para anggota generasi keempat dan kelima hingga sekarang masih mengajar dan berpentas secara rutin dan sangat dikenal oleh masyarakat Bali sebagai penari khas Peliatan: AA Raka Astuti, AA Sri Utari, Niluh Man Sulasih, Luh Mas Sriati, Cok Istri Ratih Iriani, AA Gde Oka Dalem, dll.
Dengan tujuan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya, para murid Niang Sengog dan Gungkak Mandera dari beberapa generasi akan mengadakan suatu acara khusus bertempat di Balerung Stage, Peliatan dan Ancak Saji Puri Agung Peliatan, yang dimulai dengan pameran foto dan pemutaran film dari 27 Agustus sampai 26 September 2007, dan selanjutnya pementasan tari-tarian pada tanggal Agustus 26, 27, 28 dan 29, juga ada pementasan pada acara penutupan tanggal 26 September 2007.
go TOP
PROGRAM |
Opening Ceremony (26 to 29 Aug 2007)
Photo Exhibition (26 Aug to 29 Sep 2007)
Cultual Performance (26 to 29 Aug 2007, 26 September 2007)
Closing Ceremony (26 September 2007)
*** Dilarang memotret selama berlangsungnya pertunjukan ***
Opening of Photo & Film Exhibition
Dancers Reunion - 6pm at Balerung Stage
'Anak Agung Gde Mandera, Maestro Seni Tari dan Tabuh dari Peliatan' by Anak Agung Gde Oka Dalem
'Biang Sengog , Empu Legong Dari Peliatan' by Ayu Bulantrisna Djelantik
MALAM PERTUNJUKAN BARUNGAN GONG KEBYAR DAN SEMARA PEGULINGAN
Performance by Gunung Sari & Gunung Jati Teges Kanginan
(Classical Legong & other authentic dances of peliatan)
GUNUNG SARI
|
![]() |
GUNUNG JATI
|
![]() |
Performance by Genta Bhuana Sari & Tirta Sari
(Classical Legong & other authentic dances of peliatan)
TIRTA SARI
|
![]() |
GENTA BHUANA SARI
|
![]() |
Performance by Genta Bhuana Sari, Tirta Sari, Marching Band Universitas Warmadewa& Percussion
(The Works of Guruh Soekarno Putra & Oka Dalem)
Genta Bhuana Sari, Tirta Sari, Marching Band Universitas Warmadewa |
|
|
![]() ![]() |
|
![]() |
Performance by Bengkel AyuBulan,Jakarta & Genta Bhuana Sari, Tirta Sari
Bengkel AyuBulan Jakarta, Genta Bhuana Sari, Tirta Sari |
|
|
|
|
|
Performance by Mekar Sari(Ladies Gamelan Orchestra), Genta Bhuana Sari, Tirta Sari
Mekar Sari, Genta Bhuana Sari, Tirta Sari |
|
|
![]() ![]() ![]() |
*** Dilarang memotret selama berlangsungnya pertunjukan ***
go TOP
OFFICIAL SPONSOR |
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
|
PT.GUDANG GARAM Tbk Kediri Indonesia HIS Tours & Travel (PT. Harum Indah Sari Tours & Travel) MUSEUM TOPENG TEGAL BINGIN Mas Ubud / PT SAWIT RAKYAT INVESTOR, Jakarta / BEBEK BENGIL RESTAURANT, Ubud / MAYA UBUD RESORT & SPA, Ubud / KHRISNA GROUP / BANK BCA / BANK PERMATA, Jakarta / LAKA LEKE RESTAURANT, Ubud / CV BIDADARI, Ubud / YAYASAN BALI PURNATI, Sukawati / WAKA DI UME, Ubud / BATAN WARU RESTAURANT, Ubud / ARY'S WARUNG, ubud / MUNDA MATERNITY HOSPITAL, Semarang, Jawa Tengah / Bank NISP |
DONATION |
|
Bpk Joov Ave / Bpk. Prayitno / Ibu Daryani Pramanik / Bpk. Ir. Santoso Senansyah / Bpk. Ngurah Mahendra / Ibu. Maria Odilia / Bpk. Un / Bpk. Ir Robby / Ibu. Tjempaka Blanco |
go TOP
![]() |
*event flier dengan lokasi map [455KB] > download
*Informasi dalam bahasa Inggris click > English *Informasi dalam bahasa Jepang click > Japanese
|